Arsip untuk ‘Pendidikan’ Kategori

Umar Bakrie

Februari 8, 2008

Betapa ketir rasa hati ini saat kutahu kwalitas Pendidikan negeri ini kian terpuruk, harus bagaimana tuk dapat ku bangkit mengankat harkat dan martabat bangsa ini?

Aku seorang “Umar Bakrie” yang mengabdi pada negeri ini, walau ku harus pergi pagi pulang petang dengan penghasilan “masih dalam pertimbangan” (mudah-mudahan dapat terealisasikan, Amiin… ). Ku pacu sepeda motor tahun 2000ku tuk mengejar waktu agar tak terlambat, tempat tugas ku yang berada dipedesaan tak menjadi halangan, walau kutinggal dikota kecil Kuningan. Ingin rasanya ku jadi tauladan bagi anak-anak didikku.

Tahun 1988 aku mulai mengajar disebuah Sekolah Dasar (SD) yang berada dipedesaan, Idealisme saat itu sungguh begitu kuat dalam benakku. Ku harus meningkatkan kwalitas anak bangsa ini yang letaknya disebuah perkampungan. Sering aku ngobrol dengan rekan-rekan kerja ku agar prestasi anak didik kita bisa sepadan dengan siswa-siswa disekolah kota, dan setelah lulus kelas 6 mereka mau melanjutkan ke SMP. Setiap menjelang ujian kelas 6 sekolah kami suka mengadakan pelajaran tambahan dengan tanpa dipungut bayaran. Tapi apa dikata walau “gratis (hanya diminta 1 bks mie instan secara bergiliran setiap hari buat makan siang)” kebanyakan dari mereka tidak datang. Sungguh betapa sedihnya hatiku, bagaimana kalau dipungut bayaran seperti Sekolah di kota ?

Namun demikian kekecewaan hatiku dapat terobati mana kala ada salah satu siswa binaanku yang masuk seleksi siswa berprestasi tingkat kabupaten.

Pergulatanku didunia pendidikan semakin terasa berat dengan adanya ketentuan- ketentuan pemerintah dengan standar pendidikan guru. Delapan tahun kemudian aku kuatkan tekad untuk merubah nasib dengan mengikuti Pendidikan di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di kota ku, hingga aku lulus ditahun 2001. Begitu beratnya hidupku ini, saat itu aku sekolah dengan tanggungan seorang istri dan 2 orang anak. Aku dan Istriku harus dapat mengatur anggaran dengan ketat, sehingga BANYAK KEINGINAN YANG TERTUNDA.

Kini Aku mengajar di Sebuah SMP yang letaknya sama dengan tempat mengajar di SD dulu, dengan harapan aku dapat lebih mengembangkan kemampuan dan kreatifitasku (akupun aktipis beberapa Ormas Kepemudaan). Ku coba terus berjuang untuk mengejar ketinggalan sekolah ku, walau banyak halangan dan rintangan dari atasan ataupun rekan kerjaku, yang penting bagiku bagaimanapun anak didik harus maju dan tidak ketinggalan dari sekolah lain.

Kini dunia Pendidikan merasa bangga dengan Telah lahirnya Undang-undang Guru dan alokasi Dana untuk Pendidikan 20% dari APBN dan APBD, walau sampai saat ini belum terealisasikan. Untuk menikmatinya kini sekolah dihadapkan pada Akreditasi dan Guru siap dengan Sertifikasi (mudah-mudahan bukan hanya isapan jempol belaka).

Setahu saya, orang untuk menjadi guru pada jaman dulu sangat sedikit, apalagi untuk jadi honorer. Tapi sekarang….. masyaallah sampai berebutan. Ada rasa bangga juga hawatir dalam hatiku ini. Bangganya Guru tidak dipandang sebelah mata lagi dimasyarakat, khawatirnya jangan sampai Kwalitas Guru sebagai seorang pendidik akan menurun karena untuk menjadi seorang guru tidak perlu lagi adanya seleksi yang ketat, baik di perguruan tinggi (yang kini kian menjamur sampai kepelosok-pelosok kecamatan yang terpencil) maupun dalam pengangkatan guru (Kontrak Daerah,GBS, dan CPNS). Karena pengangkatan Guru sekarang ini kurang Profesional dan tidak proporsional lagi ( tidak sesuai dengan kebutuhan sekolah dan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikanya ).

Kalau sudah begini apa Kwalitas pendidikan dinegeri ini akan meningkat?

Lalu siapa yang salah? Guru? Lembaga Pendidikan? Peraturan? atau Birokrat yang membuat kebijakan?

Dulu Umar Bakrie sedih dengan Gaji, kini Umar Bakri sedih dengan kwalitas anak negeri ! Nasibnya sedang diperbaiki namun pengabdiannya sedang diuji.

Rasanya kapan akan bahagia yach Umar Bakri ?